Sabtu, 08 November 2008

#1 - "PsyCamp?? Kegiatan tai kucing!!", kata seorang maba'00

dulu, pernah iseng-iseng ikut demo! tapi bukan ama mahasiswa melainkan ama tukang ojek dan temen2 SMA! Walhasil, kami mendapat banyak makanan karena meniru orang-orang yang sedang melakukan penjarahan!

Mei 98,
mulai dari tukang ngobat garuk2 bekas-bekas nyipe' gak keruan ampe ke preman terminal,
mulai dari anak mami berseragam SMA, ampe bapak-bapak berseragam SMA (kagak lulus-lulus),
mulai dari timer, tukang parkir, ampe supir angkot,
mulai dari pecundang-pecundang jalanan yang gak jelas ampe satu keluarga lengkap dengan anak-anaknya yang sudah remaja, sibuk menjarah!
Semua gue saksikan habis termakan lalapan api Supermarket Yogya di Klender, Jakarta Timur.

Indonesia berdarah!
Indonesia yang biadab!
tapi apalah arti Indonesia pada pikiran segerombolan anak-anak SMA yang kurang kerjaan..?? setau kami sekolah diliburkan, setau kami jakarta kerusuhan, setau kami, ada penjarahan dan karena sekolah dihentikan pukul 10 WIB, maka kami punya banyak waktu sisa untuk keliling jakarta timur melihat kesibukan rakyat! Entah sebuah pesta, entah sebuah perayaan, entah fenomena kesurupan kolektif, atau sekedar reaksi balik! Bagi kami yang kenyang pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) atau PPKN serta Penataran P4, kami yang kenyang pendidikan agama dan rohani sejak SD sampai SMA, kejadian itu sama sekali tidak kami lihat dari sudut pandang moral mengenai salah dan benar!

Hampir setahun kemudian gue lulus, namun GAGAL UMPTN! Masuk salah satu Universitas Swasta di Depok waktu itu hanya formalitas, sekadar sebuah status supaya dibilang pemuda terdidik, pemuda terpelajar, MAHASISWA!

Ngerasain yang namanya OSPEK di universitas asal-asalan ini sama sekali gak manusiawi. sama sekali gak menunjukkan wajah akademisi, perilaku terdidik. Kesan-kesan sains pun berganti dengan warna-warna permabokan, pemalakan dan lain sebagainya! entah gimana caranya gue survive, yang jelas punya muke nyolot ternyata ada gak enaknya juga! heheh..

Pelan tapi pasti, gue males ngapa-ngapain! males kuliah! Gue dah tau seluk beluk perjudian dan permabokan ini kampus dan dah mulai bosen! 3 bulan kemudian gue cabut, uang kuliah gak gue bayar, tapi tetep gue minta dan gue gunakan untuk macem-macem yang gak beres. Namun 1/10-nya gue gunakan juga untuk daptar bimbel guna menghilangkan rasa bersalah dalam hati.
(yah sedikit-sedikit gue masih bisa ngerasa sesuatu lah!)

Karena putus sekolah, gantian gue berada di posisi mereka yang biasa disebut 'wong cilik' itu. nganggur gak ada kerjaan, jadi timer, tukang parkir dan lain sebagainya! apapun lah! yang jelas gue bilang ke rumah bahwa gue kuliah. (walaupun akhirnya ketahuan bahwa gue dah gak kuliah, gue bilang bahwa gue bimbel!)

bla bla bla... and so on.. and so on.. intinya melalui keberuntungan, entah kenapa gue lulus UMPTN!

gak ding.. gue bo'ong..
gue tau kenapa gue lulus, dan apa penghayatan gue waktu itu..
tapi kalo gue tulis disini, jatoh2nya jadi curhat colongan!


Beberapa paragraf pembuka diatas gue maksudkan untuk memberikan gambaran mengenai gue yang ngalamin keseharian sedemikian rupa dan mempunyai nilai-nilai sedemikian rupa. Bagaimana "mahasiswa UI" kemudian gue pandang bisa dikatakan lebih mirip bayangan seorang kutu buku! Mengenai sekumpulan anak mami berkacamata yang taunya cuman baca, tulis, ujian bagus dan lain sebagainya! Salah benar gue hayati kemudian, tapi pada saat itu ya begitulah.

Psikologi Universitas Indonesia. for your information, gue tertarik masuk sini gara-gara guru Bimbel gue bernama Sintong, guru senior, seorang yang sepertinya bisa memahami jalan pikir gue, jago memotivasi, jago menghibur! tapi diantara semuanya dia jago bikin gue diem! dia jago bikin gue ato mancing gue mikir!

Sepertinya bukan gue aja, tapi anak-anak muda lain respek sama dia. Doi jago memperlakukan orang lain, membuat lawan bicaranya merasa dihargai sekaligus menanamkan rasa segan, mempraktekan wibawa dan kharisma, memberi sinyal bahwa dia juga gak bisa dimacem-macemin. Sejak sebulan sebelum UMPTN ampe semester satu berakhir, gue masih sering ngobrol dan dinasehatin olehnya.

Awal-awal masuk psiko, berkenalan dengan dosen-dosen (Hoooaaahhmmm..), kegiatan mabim, gak boleh makan di kantin, outbound, semua menjemukan kecuali satu, pengumuman oleh seseorang yang bertampang ramah, berkaca mata yang gue kenal kemudian sebagai Pudek III psikologi waktu itu bernama Budi Hartono. Harus gue akui dia sangat ramah dan dia menyinggung sebuah topik yang menarik: bahwa fakultas psikologi mempunyai kebiasaan dimana satu fakultas diajak kemping, api unggunan, kambing gulingan.

Kemping? kayak apa sih? palingan gitu2 aje! pengen tau gue kaya apa anak-anak psikologi bikin kemping!"
-kata si sotoy dan si so' jago yang mulai bicara sembari dengan sombong mengenang-ngenang pengalaman kemping dan hiking yang pernah dia alamin waktu SMA!

tapi tergiur juga oleh kambingnya sih bahkan hal itu adalah satu-satunya berita baik kala itu sebabdikemudian hari gue dengar ternyata kempingnya tidak disukai! Banyak yang gosipin bahwa hal itu merupakan ospek terselubung. Banyak senior ngomong hal-hal yang jelek tentang itu dan gue menemukan bentuk pertama dari apa yang namanya politik, golongan anu dan golongan itu! busuk-busukan, pembedaan-pembedaan, motif-motif, dan kepentingan.

dan bahkan di kegiatan PJ--acara kebaktian jum'at yang diselenggarakan oleh POSA bagi mahasiswe protestan saat itu, gue dinasehati atau disarankan untuk membenci sesuatu, waspada terhadap sesuatu--bahwa 'kaum kita' diserang, diremehkan, diasingkan, dan dilanggar hak-haknya (gue berani bilang karena gue denger, gue ada!). Tapi, persekutuan itu ga pernah ngelarang kemping sih. kita gak pernah ditakut-takutin mengenai ospek terselubung, apalagi diprovokasi oleh isu-isu bullying yang akan dilakukan. Setau gue, mereka ga menerbitkan isu-isu bahwa itu adalah acara hedon, maksiat dan lain sebagainya. (kalaupun iya, gue yang waktu itu bahkan mungkin malah tertantang dan ikutan! heheheh)

Singkat kata, seiring mabim yang aneh dan menjemukan itu, dimulailah kuliah. Bagus Takwin adalah orang yang pertama kali ngebentak gue, dia marah luar biasa. Gue gak tau juga mo ngapain waktu itu (malu diliatin ama satu kelas!). "yah kau terima sajalah, minta maap kalo bisa!", teringat saran yang paling sering keluar dari mulut pak sintong.

Ingatan-ingatan lain adalah mengenai song4camp. Sebuah acara unik yang dilakukan untuk menggelar pengumpulan dana PsyCamp! Beneran unik, gue takjub sama cara mereka galang dana dengan ngerangkul konsep tanatos-nya si Sigmund Freud! Disitulah gue diamuk untuk kedua kalinya oleh makhluk bernama Alex Sihar'94. Doi bentak gue waktu gue perform song4camp! Waktu itu gue membawakan sebuah puisi-puisi jalanan yang mencoba ikut-ikut gaya seniman-seniman di kereta api. Di sebuah bagian puisi gue teriak, "TAPI SEMUANYA TIDAK PERDULI!!"
Alex yang tidak suka bales teriak, "APAAAAA! MEMANGNYA KNAPA??!" gue bingung.. (perasaan kalo di kereta gak ada skenario macam gini dah..) kesel, takut, malu, campur aduk. sebagai maba, gue hanya siap ngelawan satu dua tahun di atas. tapi kalo 'senior macan kampus' begini mah, pikir-pikir dulu!

takut, terbirit-birit, tunggang langgang! setelah cabut dan menguasai diri sebentar, dengan berkaca-kaca gue dateng ke Alex dan minta maap! saat itu, MEMALUKAN!
tapi disini mungkin adalah momen dimana gue berkaca bahwa apa yang gue percayai mengenai apa yang gue bisa tidaklah sekokoh yang gue kira! (kalo dipikir-pikir lagi, dipermalukan dua kali di depan umum bo'..! bwahahahaha..)

Lalu setelah itu yang gue inget cuma kuliah dan kuliah, sampai dua hari kemudian, ketika gue beranjak pulang dengan beberapa teman keluar lapangan parkir gedung A berniat menyeberang, sebuah mobil tiba-tiba ngerem, kaca terbuka dan orang2 didalamnya bertanya: 'mo ikut nengokin edpans gak?' (belakangan gue ketahui bahwa mereka adalah kang peot, jambrong, dan mumu--alumni dan senior2 psikologi). gue nanya, "kemana bang?" mereka jawab, "Cijalu, Purwakarta!"
gue nengok ke temen2, menitipkan jakun dan barang2 bawaan dan berkata, "ayok.." menyetujui ajakan mereka. disitulah gue berkenalan dengan panitia PsyCamp, berkenalan dengan gerombolan senior, berkenalan dengan edpans!
berkenalan dengan sebagian anak-anak cowo psikologi yang kalo kata temen-temen gue di fakultas teknik: 'cowo-cowo flamboyan'.

dan disitulah gue berkenalan dengan PsyCamp..
dengan pergaulannya sama masyarakat dusun..
perhatiannya terhadap petani dan pekebun..
persentuhannya dengan orang-orang sederhana..
interaksinya dengan orang-orang lurus..
orang-orang tanpa pretensi..
orang-orang tanpa kepentingan..
orang-orang yang tulus..
penduduk desa yang ramah..
warga dusun yang santun..
yang taunya kerja, pulang, sholat, cek giliran ronda, istirahat..
makan seadanya..
jarang ngeluh..
dan banyak bersyukur..

ck ck ck..
ternyata ini lah PsyCamp..

dan gue tertegun..

--to be continued

**********************************************************************************
"jangan pernah lupakan bahwa PsyCamp adalah mengenai masyarakat disekitarnya, sama sekali bukan hanya soal kemping!"

--longor.siha
http://www.facebook.com/note.php?note_id=33897053374

Tidak ada komentar: