Minggu, 16 November 2008

Psycamp: A diary of a Freshman

Masa prosesi sudah lewat, namun kesibukanku tidak berhenti sampai di tugas-tugas prosesi tersebut. Dua puluh empat mata SKS mata kuliah yang kuambil di semester pertamaku di Fakultas Psikologi membanjiriku dengan serentetan pekerjaan di luar kelas. Makalah ini, makalah itu, essay ini, essay itu. Semuanya datang silih berganti. Moralku sebagai mahasiswa mulai runtuh, dan aku pun merencanakan untuk melakukan apa saja asalkan tidak berhubungan dengan perkuliahan demi ketenangan batin. Di saat itu pun aku tidak sengaja mendengar kasak-kusuk temanku yang menanyakan, “Eh lo ikut Psycamp ga?”. Selidik punya selidik, ternyata Psycamp itu kependekan dari “Psikologi Camping”. Ah, palingan cuma kegiatan kampus yang gitu-gitu aja, pikirku.

Semakin dekat hari dilaksanakannya Psycamp, semakin sering aku mendengar desas desus dan ajakan untuk mengikuti Psycamp. Karena semakin sering kupingku mendengar, mulutku pun mulai tergoda untuk bertanya-tanya. Aku pun bertanya mulai dari hal yang paling umum, “Kapan sih emangnya?” sampai ke hal yang paling personal, “Eh si ‘itu’ ikut Psycamp ga?”. Tanda tanya pun meliputiku dan teman-temanku karena ada isu-isu mengambang seperti, “Katanya bakalan dimarah-marahin ntar disana”. Saat itu aku tidak peduli dengan isu-isu semacam itu. Aku hanya ingin kegiatan yang bisa membuatku lupa dengan tugas-tugas yang tidak manusiawi. Namun sayangnya, saat itu pilihanku tidak banyak. Tidak ada tawaran pergi ke luar kota, teman-teman SMA ku tidak berinisiatif untuk berlibur, dan terlebih lagi, si “itu” ikut Psycamp. Jadilah aku melibatkan diri di kegiatan yang berbau kampus lagi.

Celana jeans biru belel, kaos oblong, sepatu converse, dan tas selempang kecil sebagai tempat untuk amunisi pergi kemping. Aku tidak membawa senter, tidak memakai sepatu gunung, ataupun membawa snack. Aku hanya ingin jauh dari depok untuk beberapa saat. Dengan menggunakan tronton kami semua berangkat menuju ke arah Subang,Jawa Barat.

Setelah beberapa jam perjalanan, udara dingin mulai terasa. Jalan yang awalnya mulus, mulai berguncang-guncang karena jalan yang dilalui tidak diaspal. Aku terjaga setelah beberapa jam terlelap, dan mendengar kawan-kawan bernyanyi lagu-lagu yang kukenal diiringi melodi gitar. Sesampainya di tempat, langit sudah gelap, hanya tinggal diterangi bintang dan cahaya bulan. Kami semua turun dari tronton, saling membantu membawakan barang-barang teman, dan biasanya, untuk orang-orang yang sudah memiliki ‘target’ biasanya sudah mulai ‘menyerang’ si target dengan beribu-ribu alasan. Mulai dari membawakan barang, standby di tempat yang agak berbahaya sehingga mempunyai alasan untuk memegang tangan si target, dan serangan-serangan kreatif lainnya.

Begitu tiba di tempat perkemahan, aku cukup terkejut. Suasana kemping yang serba susah yang kubayangkan, sama sekali tidak ada. Tiga buah tenda peleton (seluas 30 X 50 meter, kalau tidak salah) berdiri dengan kuat lengkap dengan lampu neon di dalamnya. Jalan setapak sudah dibentuk sedemikian rupa demi kenyamanan berjalan peserta disertai tempat tumpuan tangan dan lilin-lilin penerangan jalan. Melongok jauh sedikit ke arah sungai, ada kamar mandi buatan dan kakus buatan - tidak lupa dengan penerangannya. Ajaibnya, ada dapur di tengah hutan! Aku melihat panitia yang sedang menggoreng sosis di dalam rumah-rumahan kecil yang terbuat dari bambu dan beratapkan daun-daun. Ini sih kemping mewah, pikirku. Setelah berkeliling melihat-lihat situasi dan menyapa kawan-kawan, aku menaruh tas di salah satu tenda, dan segera berkumpul bersama mengelilingi api unggun - tidak lupa menyeruput kopi susu panas. Aku merilekskan diri, menghangatkan diri di depan api unggun, tertawa bersama teman-teman baru, dan memandang si ‘itu’ dari kejauhan.

Tidak salah memang pilihanku hari ini.

Hari Jumat di Psycamp tahun 2004

Khrisnaresa Adytia

http://www.new.facebook.com/note.php?note_id=35896716865

Tidak ada komentar: