Senin, 10 November 2008

Dialektika Alam Raya dan Manusia

Planet Bumi berumur sekitar 4.5 milyar tahun menurut para ilmuwan. Dari ‘perkiraan’ rentang waktu ini, mahluk hidup muncul pada sekitar 3.5 milyar tahun yang lalu. Dalam periode waktu ini kehidupan bermekaran di planet Bumi. Dan dalam waktu kehadirannya yang singkat, manusia mengubah wajah dunia dengan hebat dengan perkembangan keunggulan utamanya diatas semua mahluk hidup penghuni planet ini. Dari jalinan silang-sengkarut perkembangan manusia dalam berbagai aspek seperti budaya, populasi, genetik, pengetahuan dan teknologi ada sebuah motif utama yang bertahan dalam tema sejarah peradaban manusia, bertahan hidup.

Bertahan hidup bukanlah sebuah kalimat sederhana. “Bertahan hidup” bisa menjadi sebuah kalimat yang mewakili seluruh drama kehidupan, setiap badai saraf dalam pikiran, setiap detak nafas, setiap gejolak energi, setiap hilang dan berubahnya materi, setiap perubahan realitas sekecil apapun adalah definisi “kehidupan”. Dalam sebuah alam raya kehidupan dan kesadaran masif tak terhingga ini manusia diberi sebuah hak yang sangat khusus dari Tuhan, untuk memiliki kehendak bebas.

Disatu sisi manusia mendapat berkah untuk menaklukkan alam dan kehidupan lain di dalamnya, namun kehendak bebas ini juga memisahkan manusia dari seluruh kehidupan alam raya dengan menjadikan dirinya sebagai mahluk yang terasing dari kesadaran masif ini. Manusia mungkin hebat dalam hal membangun dunia ide dan teknologi-teknologi tinggi untuk menaklukkan alam, namun dalam persoalan mendengar dan memahami kesadaran alam raya, manusia adalah salah satu mahluk hidup dengan intelegensia terendah diantara lebah, rumput liar, bakteri, tikus, dan mahluk-mahluk lain yang mungkin belum pernah kita bayangkan di alam semesta.

Sebagian besar manusia dan peradaban telah kehilangan arah yang benar dalam hal perkembangan untuk ‘mendengarkan’, ‘memahami’ dan hidup selaras dengan alam raya. Manusia gagal memahami bahwa bermain-main dengan cetak biru genetika mahluk lain dapat melahirkan monster-monster seperti virus HIV, virus penyebab penyakit flu burung, kematian massal populasi ternak tertentu (atau manusia) dan senjata-senjata biologis. Walaupun di sisi lain rekayasa genetika sudah melahirkan padi, jagung, gandum atau sapi yang unggul, buah-buahan yang mewarisi berbagai kelebihan macam-macam sifat dari induknya, bakteri yang dapat membersihkan air laut dari pencemaran minyak dan berbagai keajaiban alam lainnya, kemanusiaan gagal memahami sifat dan keunggulan alamiahnya sendiri, kehendak bebas.

Kehendak bebas inilah yang sekali lagi menentukan arah dan sejarah peradaban manusia. Manusia diciptakan Tuhan dengan tujuan untuk membawa paradoksikalitas dalam harmoni alam semesta kehidupan agar alam semesta pada akhirnya menuju kehancuran. Kehancuran yang secara ilmiah juga sudah diprediksi oleh kosmologi, fisika kuantum atau diramalkan oleh filsafat dan diberitakan oleh penerima-penerima wahyu ini adalah sebuah kejadian dan fenomena di masa depan yang disetujui baik oleh kepercayaan maupun ilmu pengetahuan. Peningkatan entropi (kekacauan) dan degradasi alam semesta dalam hal yang paling sederhana adalah berkurangnya materi genetik, hasil milyaran tahun evolusi melahirkan jutaan spesies mahluk hidup yang terus bertambah dalam skala eksponensial, sebaliknya perkembangan peradaban manusia telah memusnahkan berbagai jenis keragaman genetik dalam waktu yang begitu singkat.

Perbedaan ini adalah perbedaan dalam hal kehendak bebas dari kesadaran manusia untuk terputus dari alam semesta. Galaksi berkomunikasi dengan galaksi lain dengan meledakkan bintang-bintang, membuat lubang hitam, tata surya berkomunikasi dengan tata surya lain dengan mengirim komet, melemparkan meteor, asteroid, sementara bintang bercakap-cakap dengan planet-planet pengiringnya dengan cahaya, badai solar dan gerhana, atmosfer bumi berbincang dengan tanahnya dengan mengirimkan hujan, angin, terik mentari dan kilatan petir, perut bumi berkomunikasi dengan seluruh isinya dengan memuntahkan lahar, batu atau menghisapnya dari permukaan, bakteri berkomunikasi dengan koloninya dengan berevolusi dan membentuk berbagai struktur dasar untuk tingkat kehidupan berikutnya hingga mamalia pertama berjalan tegak di muka bumi. Seluruh harmoni dan keselarasan alam berhenti pada manusia. Entah mengapa betapa banyak manusia masih mempercayai bahwa dirinya adalah hasil dan bagian dari evolusi alam, mengakui dirinya sebagai bagian dari kesadaran massif alam semesta.

Sementara bakteri dan primata telah bertahan hidup berdampingan tanpa menghapuskan eksistensi satu sama lain, dan bahkan sebagian telah mengembangkan hubungan saling menguntungkan dan ‘kolektif’ dalam tingkat organisme. Manusia adalah satu-satunya mahluk yang tidak memahami jaringan kesadaran massif untuk menghargai keberadaan mahluk lain sebagai satu-satunya cara bagi dirinya sendiri untuk bertahan hidup. Punahnya satu jenis serangga yang tugasnya menyebarkan serbuk sari tertentu dapat memandulkan keseluruhan spesies tanaman penghasil biji-bijian atau buah-buahan yang sumber makanan bagi manusia. Tercemarnya seluruh samudera oleh virus buatan manusia yang dapat menghabiskan spesies zooplankton atau fitoplankton tertentu dapat menghancurkan lima puluh persen dari penghasil oksigen di planet bumi, cerita yang sama bisa kita bayangkan karena sudah terjadi pada hutan-hutan, ladang-ladang, sungai-sungai, danau, rawa-rawa dan bermilyar-milyar ekosistem darat.

Dalam masa-masa kritis dan berbahaya seperti kelaparan, perang, pertentangan ideologi atau agama, kemiskinan, kehancuran moral dan segala negatifitas dari paradoksikalitas yang dibawa oleh manusia yang bisa kita sebutkan, alam tetap berkomunikasi dengan manusia dengan menampilkan bahasa kesadarannya sendiri. Berbagai bencana geologis, biologis, atau astronomis sekalipun adalah sebuah bentuk ‘geliat’ kesadaran massif dari alam semesta. Alam semesta dalam sejarah kehidupan telah menunjukkan kekuasaannya dan kekerdilan manusia dengan sedikit semburan dari perutnya, sedikit percikan dari lautnya, sedikit tiupan dari langitnya dan segala gerak gerik alam semesta yang menggerus eksistensi dan seluruh pencapaian manusia seperti sebuah buih ditengah gelombang samudera.

Sedikit manusia yang menyadari akan keperkasaan alam, manusia mempercayakan superioritasnya dengan menaklukkan dan menguasai alam seperti menaklukkan dan menguasai manusia lain. Manusia gagal melihat eksistensi sungai-sungai air tawar, hutan-hutan tropis, terumbu-terumbu karang dan berbagai keragaman genetik serta kesadaran-kesadaran alam lainnya sebagai syarat dan rasionalitas dari eksistensinya sendiri. Eksistensi dari memperoleh makanan, eksistensi dari memperoleh berbagai kemajuan dan perkembangan peradabannya sendiri dengan melihat dan meniru alam, eksistensi dari keragaman genetik, sifat dominan, budaya, sistem sosial dan bahkan perkembangan dunia idenya sendiri sebagai hasil dari berbagai suplai kesadaran alam yang masif terhadap kehendak bebasnya.

Salju dan es adalah yang memberikan keunikan genetik dari bangsa Eskimo terhadap kemampuannya melihat berbagai gradasi warna putih dari matanya, ketinggian dan tipisnya oksigen adalah yang memberikan orang-orang Peru paru-paru dengan volume lebih besar dari rata-rata manusia, bakteri dan supremasi keragaman genetik-lah yang memberikan kekebalan alamiah terhadap orang-orang asia di daerah tropis terhadap eksistensi mikroorganisme yang merupakan momok bagi bangsa-bangsa lain. Sementara sifat kausalitas dari berbagai kesadaran alam inilah yang jalin-menjalin dalam tingkat molekular eksistensi manusia, manusia sendiri rupanya semakin jauh dari ‘dengungan’ kesadaran ini. Sel retinanya mulai jarang tersentuh hijaunya hutan atau birunya laut, telapak tangannya mulai jauh dari sensasi-sensasi artistik dan filosofis dari tekstur kulit pohon atau licinnya hewan laut, insting bertahan hidupnya tidak lagi mengingat tajamnya duri atau batu, kesadarannya sebagai bagian dari alam semesta mulai terputus dari ‘kesadaran-kesadaran’ alam semesta yang lain.

Kesadaran tidak timbul dari kesendirian, keberadaan eksistensi lain adalah kausalitas dari kesadaran. Seorang bayi ‘sadar’ akan ketergantungan eksistensinya dari lingkungan air di sekitarnya, ari-ari yang memberinya makan, getaran-getaran udara dari luar yang mengganggunya dari tidur dan bermimpi, dan seluruh orkestra perdana dari kesadaran alam semesta yang dirasakan olehnya. Sementara kehidupan berjalan, bayi yang kemudian menjadi seorang manusia ini telah mengalami berbagai episode perubahan dari berbagai kesadaran alam semesta dengan mengabaikan ‘suara’ alam semesta untuk mendengarkan dan mengembangkan ‘suara’ kesadarannya sendiri. Dalam proses evolusi kesadaran ini, manusia mulai melupakan orkestra alam semesta dan meningkatkan ketergantungannya terhadap artefak-artefak, simbol-simbol dan bentuk-bentuk pencapaian kesadaran dari spesiesnya sendiri saja.

Dalam bentuk kesadaran ini, manusia mulai menumpuk-numpuk berbagai paradoksnya sembari menghancurkan hubungannya dengan alam. Keharusan bekerja untuk mencari uang sebagai alat tukar untuk memenuhi kebutuhannya akan air, makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan-kebutuhan bertahan hidup lainnya telah menjauhkan manusia dari kesadaran purba untuk mencari sungai, buah-buahan, berburu, meramu, bercocok tanam, berternak dan membuat tempat tinggal dengan tangannya sendiri. Evolusi kesadaran inilah yang membuat manusia semakin tidak memahami keterbatasan diri yang ditetapkan oleh alam semesta pada dirinya.

Kesadaran dan ketidaksadaran inilah yang membuat ilmu pengetahuan, budaya dan perkembangan teknologi selalu menjadi kausalitas bermata dua dari paradoks eksistensi manusia ini yang tidak akan pernah hilang. Sebagai manusia yang ‘sadar’ kita dapat memahami bahwa paradoks inilah yang membuat kehidupan menjadi begitu berwarna-warni, berlika-liku dan berkembang. Kita juga sadar bahwa paradoks inilah yang mendefinisikan kesadaran manusia sebagai individu yang jauh berbeda dari ‘kesadaran’ kolektif koloni lebah, ‘kesadaran’ kelompok kawanan lumba-lumba, ‘kesadaran’ genetik bakteri untuk menghindari bakteri lain, dan kesadaran sebongkah atom yang menghisap dan melempar elektron. Manusia memiliki kehendak bebas untuk mendengarkan atau tidak ‘suara’ dari kesadaran alam raya, dan inilah keunggulan manusia dari seluruh mahluk lainnya, untuk menjadi kebaikan bagi alam semesta atau penghancur darinya. Kesadaran inilah yang membuat seorang individu manusia dapat melihat dirinya sebagai sekaligus bagian dan juga faktor penentu dari keberlangsungan alam semesta, alih-alih kesadaran seperti pada virus, bakteri, cacing, atau kambing yang hidup hanya untuk bertahan hidup.

Sementara mahluk-mahluk yang terdengar remeh ini tidak punya kehendak bebas untuk tidak mendengarkan suara alam raya, mahluk-mahluk remeh dan trilyunan kawan-kawan evolusionernya ini telah hidup selaras dan menghasilkan orkestra kesadaran alam semesta itu sendiri. Akhir dari essai asal-asalan ini adalah sebuah pertanyaan, dimanakah eksistensi kita sebagai manusia dalam kesadaran alam semesta?

=D

Semoga jawabannya bisa kita cari dan temukan dari pelosok-pelosok hutan, padang-padang rumput, puncak-puncak gunung, tebing-tebing karang, dasar-dasar laut atau dari dalam hati kita yang tulus ikhlas mencari dan mengharapkan suara alam raya.

--Ki Ageng Selauw
http://www.new.facebook.com/topic.php?uid=32360959073&topic=6786

Tidak ada komentar: